Selasa, 26 November 2013

THOWAF DAN UMROH SUNAH

Sebelumnya saya telah membahas diskusi saya dengan teman malaysia tentang pentingnya thowaf dari pada umroh sunah,ini ada artikel yang membahas hal tersebut yang saya cari di google,berikut kutipannya

Sebelas Alasan Tidak Melakukan Umrah Berulang Kali Saat Berada Di Mekkah

Jumat, 20 Nopember 2009 16:00:35 WIB
SEBELAS ALASAN TIDAK MELAKUKAN UMRAH BERULANG KALI DI SAAT BERADA DI MEKKAH

Oleh
Ustadz Muhammad Ashim bin Musthafa


Ada satu fenomena yang umum disaksikan pada kalangan jamaah haji Indonesia dan juga negara lainnya. Saat berada di kota suci Mekkah, banyak yang berbondong-bondong menuju tanah yang halal, yaitu al hillu, Masjid ‘Aisyah di Tan’im atau Ji’ranah. Tujuannya untuk melaksanakan umrah lagi. Umrah yang mereka kerjakan bisa lebih dari sekali dalam satu hari. Dalih mereka, mumpung sedang berada di Mekkah, sepantasnya memperbanyak ibadah umrah, yang belum tentu bisa dikerjakan lagi sesudah sampai di tanah air. Atau dengan kata lain, untuk memperbanyak pahala. Saking berlebihannya, Syaikh Muhammad bin Shalih al 'Utsaimin penuh keheranan pernah menyaksikan seorang laki-laki yang sedang mengerjakan sa'i dengan rambut tersisa separo saja (sisi yang lain gundul). Syaikh 'Utsaimin pun bertanya kepadanya, dan laki-laki tersebut menjawab : “Bagian yang tak berambut ini telah dipotong untuk umrah kemarin. Sedangkan rambut yang tersisa untuk umrah hari ini”. [1]

SELAIN IKHLAS, IBADAH MEMBUTUHKAN MUTABA’AH
Suatu ibadah agar diterima oleh Allah, harus terpenuhi oleh dua syarat. Yaitu ikhlas dan juga harus dibarengi dengan mutaba’ah. Sehingga tidak cukup hanya mengandalkan ikhlas semata, tetapi juga harus mengikuti petunjuk Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Disamping itu juga dengan mengetahui praktek dan pemahaman generasi Salaf dalam menjalakan ibadah haji yang pernah dikerjakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Sebab, generasi Salaf merupakan generasi terbaik, yang paling semangat dalam meraih kebaikan.

Umrah termasuk dalam kategori ini. Sebagai ibadah yang disyariatkan, maka harus bersesuaian dengan rambu-rambu syari'at dan nash-nashnya, petunjuk Nabi dan para sahabat, serta para pengikut mereka yang ihsan sampai hari Kiamat. Dan ittiba’ ini merupakan salah satu tonggak diterimanya amalan di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Sebagai ibadah yang sudah jelas tuntunannya, pelaksanan umrah tidak lagi memerlukan ijtihad padanya. Tidak boleh mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah umrah dengan ketentuan yang tidak pernah digariskan. Kalau tidak mengikuti petunjuk syariat, berarti ibadah yang dilakukan menunjukkan sikap i’tida` (melampaui batas) terhadap hak Allah, dalam aspek penetapan hukum syariat, serta merupakan penentangan terhadap ketentuan Allah dalam hukumNya. Allah berfirman : "Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih" [Asy Syura /42: 21][2]

JUMLAH UMRAH RASULULLAH SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM
Sepanjang hidupnya, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan umrah sebanyak 4 kali.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ اعْتَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَعَ عُمَرٍ عُمْرَةَ الْحُدَيْبِيَةِ وَعُمْرَةَ الْقَضَاءِ مِنْ قَابِلٍ وَالثَّالِثَةَ مِنْ الْجِعْرَانَةِ وَالرَّابِعَةَ الَّتِي مَعَ حَجَّتِهِ

Dari Ibnu 'Abbas, ia berkata : "Rasulullah mengerjakan umrah sebanyak empat kali. (Yaitu) umrah Hudaibiyah, umrah Qadha`, umrah ketiga dari Ji'ranah, dan keempat (umrah) yang bersamaan dengan pelaksanaan haji beliau".[3]

Menurut Ibnul Qayyim, dalam masalah ini tidak ada perbedaan pendapat [4]. Setiap umrah tersebut, beliau kerjakan dalam sebuah perjalanan tersendiri. Tiga umrah secara tersendiri, tanpa disertai haji. Dan sekali bersamaan dengan haji.

Pertama, umrah Hudhaibiyah tahun 6 H. Beliau dan para sahabat yang berbaiat di bawah syajarah (pohon), mengambil miqat dari Dzul Hulaifah Madinah. Pada perjalanan umrah ini, kaum Musyrikin menghalangi kaum Muslimin untuk memasuki kota Mekkah. Akhirnya, terjadilah pernjanjian Hudhaibiyah. Salah satu pointnya, kaum Muslimin harus kembali ke Madinah, tanpa bisa melaksanakan umrah yang sudah direncanakan.

Kemudian, kaum Muslimin mengerjakan umrah lagi pada tahun berikutnya. Dikenal dengan umrah Qadhiyyah atau Qadha`[5] tahun 7 H. Selama tiga hari beliau n berada di Mekkah. Dan ketiga, umrah Ji’ranah pada tahun 8 H. Yang terakhir, saat beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam mengerjakan haji Wada’. Semua umrah yang beliau kerjakan terjadi pada bulan Dzul Qa`dah.[6]

SEBELAS ALASAN TIDAK MELAKUKAN UMRAH BERULANG KALI
Para ulama memandang, melakukan umrah berulang kali sebagai perbuatan yang makruh. Masalah ini telah dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Fatawanya. Keterangan beliau tersebut dikutip oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin dalam Syarhul Mumti’. [7]

Berikut ini beberapa aspek yang menjelaskan bahwa umrah berulang-ulang seperti yang dikerjakan oleh sebagian jamaah haji –sebagaimana fenomena di atas- tidak disyariatkan.

1. Pelaksanaan empat umrah yang dikerjakan Rasulullah, masing-masing dikerjakan dengan perjalanan (safar) tersendiri. Bukan satu perjalanan untuk sekian banyak umrah, seperti yang dilakukan oleh jamaah haji sekarang ini. Syaikh Muhammad bin Shalih al 'Utsaimin menyimpulkan, setiap umrah mempunyai waktu safar tersendiri. Artinya, satu perjalanan hanya untuk satu umrah saja [8]. Sedangkan perjalanan menuju Tan’im belum bisa dianggap safar. Sebab masih berada dalam lingkup kota Mekkah.

2. Para sahabat yang menyertai Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam haji Wada’, tidak ada riwayat yang menerangkan salah seorang dari mereka yang beranjak keluar menuju tanah yang halal untuk tujuan umrah, baik sebelum atau setelah pelaksanaan haji. Juga tidak pergi ke Tan’im, Hudhaibiyah atau Ji’ranah untuk tujuan umrah. Begitu pula, orang-orang yang tinggal di Mekkah, tidak ada yang keluar menuju tanah halal untuk tujuan umrah. Ini sebuah perkara yang disepakati dan dimaklumi oleh semua ulama yang mengerti sunnah dan syariat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.[9]

3. Umrah beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam yang dimulai dari Ji’ranah tidak bisa dijadikan dalil untuk membolehkan umrah berulang-ulang. Sebab, pada awalnya beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam memasuki kota Mekkah untuk menaklukannya dalam keadaan halal (bukan muhrim) pada tahun 8 H. Selama tujuhbelas hari beliau berada di sana. Kemudian sampai kepada beliau berita, kalau suku Hawazin bermaksud memerangi beliau. Akhirnya beliau mendatangi dan memerangi mereka. Ghanimah dibagi di daerah Ji’ranah. Setelah itu, beliau ingin mengerjakan umrah dari Ji’ranah. Beliau tidak keluar dari Mekkah ke Ji’ranah secara khusus. Namun, ada perkara lain yang membuat beliau keluar dari Mekkah. Jadi, semata-mata bukan untuk mengerjakan umrah.[10]

4. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, juga para sahabat -kecuali ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma- tidak pernah mengerjakan satu umrah pun dari Mekkah, meski setelah Mekkah ditaklukkan. Begitu pula, tidak ada seorang pun yang keluar dari tanah Haram menuju tanah yang halal untuk mengerjakan umrah dari sana sebelum Mekkah ditaklukkan dan menjadi Darul Islam. Karena thawaf di Ka’bah tetap masyru’ sejak Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam diutus. Bahkan sejak Nabi Ibrahim Alaihissalam. Mengerjakan thawaf tanpa umrah terlebih dahulu, sudah mengantarkan kepada sebuah ketetapan yang pasti, bahwa perkara yang disyariatkan bagi penduduk Mekkah (orang yang berada di Mekkah) adalah thawaf. Itulah yang lebih utama bagi mereka dari pada keluar dari tanah Haram untuk mengerjakan umrah. Sebab, tidak mungkin Rasulullah dan para sahabat lebih mengutamakan amalan mafdhul/ (yang nilainya kurang) -dalam hal ini thawaf- dibandingkan amalan yang lebih afdhal (umrah menurut asumsi sebagian jamaah haji). Padahal Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak memerintahkan umat untuk melakukan umrah berulang-ulang. Ucapan ini tidak mungkin dikatakan oleh seorang muslim.[11]

Ibnul Qayyim berkata,"Tidak ada umrah beliau dalam keadaan beliau keluar dari Mekkah sebagaimana dilakukan oleh kebanyakan orang sekarang ini. Seluruh umrah beliau, dilangsungkan dari luar kota Mekkah menuju Mekkah (tidak keluar dahulu baru masuk kota Mekkah). Nabi pernah tinggal di Mekkah selama 13 tahun. Namun tidak ada riwayat yang menjelaskan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam keluar kota Mekkah untuk mengerjakan umrah.

Jadi umrah yang beliau kerjakan dan yang disyariatkan adalah, umrah orang yang memasuki kota Mekkah (berasal dari luar Mekkah), bukan umrah orang yang berada di dalamnya (Mekkah), dengan menuju daerah yang halal (di luar batas tanah haram) untuk mengerjakan umrah dari sana. Tidak ada yang melakukannya di masa beliau, kecuali 'Aisyah semata…[12]

5. Tentang umrah yang dilakukan oleh ‘Aisyah pada haji Wada’ bukanlah berdasarkan perintah Nabi. Beliau mengizinkannya setelah 'Aisyah memohon dengan sangat.[13]

Kisahnya, pada waktu menunaikan ibadah haji bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, 'Aisyah mendapatkan haidh, maka Rasulullah memerintahkan saudara ‘Aisyah yang bernama ‘Abdurrahman bin Abu Bakar mengantar ‘Aisyah ke daerah Tan’im, agar ia memulai ihram untuk umrah disana. Karena 'Aisyah menyangka, bahwa umrah yang dilakukan bersamaan dengan haji, akan batal, sehingga ia menangis. Kemudian untuk menenangkannya, maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengijinkan 'Aisyah melakukan umrah lagi.

Umrah yang dilakukan ‘Aisyah ini sebagai pengkhususan baginya. Sebab, belum didapati satu pun dalil dari seorang sahabat laki-laki ataupun perempuan yang menerangkan bahwa ia pernah melakukan umrah usai melaksanakan ibadah haji, dengan memulai ihram dari kawasan Tan’im, sebagaiamana yang telah dilakukan 'Aisyah Radhiyallahu 'anha. Andaikata para sahabat mengetahui perbuatan ‘Aisyah tersebut disyariatkan juga buat mereka pasca menunaikan ibadah haji, niscaya banyak riwayat dari mereka yang menjelaskan hal itu.

Ibnul Qayyim mengatakan, (Umrah ‘Aisyah) menjadi dasar tentang umrah dari Mekkah. Tidak ada dalil bagi orang yang menilainya (umrah berulang-ulang) selainnya. Sesungguhnya Nabi dan sahabat yang bersama beliau dalam haji (Wada’) tidak ada yang keluar dari Mekkah, kecuali ‘Aisyah saja. Kemudian orang-orang yang mendukung umrah dari Mekkah, menjadikan riwayat tersebut sebagai dasar pendapat mereka. Tetapi, kandungan riwayat tersebut tidak ada yang menunjukkan dukungan terhadap pendapat mereka.[14]

Imam asy Syaukani rahimahullah berkata,"Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah berumrah dengan cara keluar dari daerah Mekkah ke tanah halal, kemudian masuk Mekkah lagi dengan niat umrah, sebagaimana layaknya yang dilakukan kebanyakan orang sekarang. Padahal, tak satupun yang sah yang menerangkan ada seorang sahabat melakukan yang demikian itu”.[15]

6. Kaum Muslimin bersilang pendapat tentang hukum umrah, apakah wajib ataukah tidak. Para ulama yang memandang umrah itu wajib seperti layaknya haji, mereka tidak mewajibkannya atas penduduk Mekkah. Imam Ahmad pernah menukil perkataan Ibnu 'Abbas: “Wahai penduduk Mekkah, tidak ada kewajiban umrah atas kalian. Umrah kalian adalah thawaf di Ka’bah”.

‘Atha bin Abi Rabah [16] –ulama yang paling menguasai manasik haji dan panutan penduduk Mekkah– berkata : “Tidak ada manusia ciptaan Allah kecuali wajib atas dirinya haji dan umrah. Dua kewajiban yang harus dilaksanakan bagi orang yang mampu, kecuali penghuni Mekkah. Mereka wajib mengerjakan haji, tetapi tidak wajib umrah, karena mereka sudah mengerjakan thawaf. Dan itu sudah mencukupi”.

Thawus [17] berkata: “Tidak ada kewajiban umrah bagi orang yang berada di Mekkah”. (Riwayat Ibnu Abi Syaibah).

Berdasarkan beberapa keterangan para ulama Salaf tersebut, menunjukkan bahwa bagi penduduk Mekkah, mereka tidak menilai sunnah, apalagi sampai mewajibkannya. Seandainya wajib, maka sudah pasti Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkannya atas diri mereka dan mereka akan mematuhinya. Tetapi, tidak ada riwayat yang menjelaskan tentang orang yang berumrah dari Mekkah di masa Nabi masih hidup, kecuali ‘Aisyah saja. Kisah ini sudah dijelaskan persoalannya di atas.

Karenanya, para ulama hadits, bila ingin menulis tentang umrah dari Mekkah, mereka hanya menyinggung tentang kejadian ‘Aisyah saja. Tidak ada yang lain. Seandainya ada, pasti sudah sampai kepada kita.[18]

7. Intisari umrah adalah thawaf. Adapun sa’i antara Shafa dan Marwah bersifat menyertai saja. Bukti yang menunjukkannya sebagai penyerta adalah, sa'i tidak dikerjakan kecuali setelah thawaf. Dan ibadah thawaf ini bisa dikerjakan oleh penduduk Mekkah, tanpa harus keluar dari batas tanah suci Mekkah terlebih dahulu. Barangsiapa yang sudah mampu mengerjakan perkara yang inti, ia tidak diperintahkan untuk menempuh wasilah (perantara yang mengantarkan kepada tujuan). [19]

8. Berkeliling di Ka’bah adalah ibadah yang dituntut. Adapun menempuh perjalanan menuju tempat halal untuk berniat umrah dari sana merupakan sarana menjalankan ibadah yang diminta. Orang yang menyibukkan diri dengan sarana (menuju tempat yang halal untuk berumrah dari sana) sehingga meninggalkan tujuan inti (thawaf), orang ini telah salah jalan, tidak paham tentang agama. Lebih buruk dari orang yang berdiam di dekat masjid pada hari Jum’at, sehingga memungkinkannya bersegera menuju masjid untuk shalat, tetapi ia justru menuju tempat yang jauh untuk mengawali perjalanan menuju masjid itu. Akibatnya, ia meninggalkan perkara yang menjadi tuntutan, yaitu shalat di dalam masjid tersebut.

9. Mereka mengetahui dengan yakin, bahwa thawaf di sekeliling Baitullah jauh lebih utama daripada sa’i. Maka daripada mereka menyibukkan diri dengan pergi keluar ke daerah Tan’im dan sibuk dengan amalan-amalan umrah yang baru sebagai tambahan bagi umrah sebelumnya, lebih baik mereka melakukan thawaf di sekeliling Ka’bah. Dan sudah dimaklumi, bahwa waktu yang tersita untuk pergi ke Tan’im karena ingin memulai ihram untuk umrah yang baru, dapat dimanfaatkan untuk mengerjakan thawaf ratusan kali keliling Ka’bah.

Bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menilainya sebagai bid’ah, (sebuah perkara yang) belum pernah dikerjakan oleh generasi Salaf, tidak diperintahkan oleh al Kitab dan as Sunnah. Juga tidak ada dalil syar’i yang menunjukkan status sunnahnya. Apabila demikian adanya, berarti termasuk bid’ah yang dibenci berdasarkan kesepakatan para ulama[20]. Oleh karenanya, para generasi Salaf dan para imam melarangnya.

Sa’id bin Manshur meriwayatkan dalam Sunan-nya dari Thawus, salah seorang murid Ibnu ‘Abbas mengatakan :

مَا أَدْرِيْ أَيُؤْجَرُوْنَ عَلَيْهَا أَمْ يُعَذَّبُوْنَ. قِيْلَ : فَلِمَ يُعَذَّبُوْنَ؟ قَالَ : لِأَنَّهُ يَدَعُ الطَّوَافَ بِالْبَيْتِ . وَيَخْرُجُ إِلَى أَرْبَعَةِ أَمْيَالِ وَيَجِيْئُ وَإِلَى أَنْ يَجِيْئَ مِنْ أَرَبَعَةِ أَمْيَالٍ قَدْ طَافَ مِائَتَيْ طَوَافٍ. وَكُلَّمَا طَافَ بِالْبَيْتِ كَانَ أَفْضَلَ مِنْ أَنْ يَمْشِيَ فِيْ غَيْرِ شَيْئٍ

"Aku tidak tahu, orang-orang yang mengerjakan umrah dari kawasan Tan’im, apakah mereka diberi pahala atau justru disiksa". Ada yang bertanya : “Mengapa mereka disiksa?” Beliau menjawab : “Karena meninggalkan thawaf di Ka’bah. Untuk keluar menempuh jarak empat mil dan pulang (pun demikian). Sampai ia pulang menempuh jarak empat mil, ia bisa berkeliling Ka’bah sebanyak dua ratus kali. Setiap kali ia berthawaf di Ka’bah, itulah yang utama daripada menempuh perjalanan tanpa tujuan apapun”.[21]

‘Atha` pernah berkata : “Thawaf di Ka’bah lebih aku sukai daripada keluar (dari Mekkah) untuk umrah”. [22]

10. Setelah memaparkan kejadian orang yang berumrah berulang-ulang, misalnya melakukannya dua kali dalam sehari, Syaikhul Islam semakin memantapkan pendapatnya, bahwa umrah yang demikian tersebut makruh, berdasarkan kesepakatan para imam. Selanjutnya beliau menambahkan, meskipun ada sejumlah ulama dari kalangan Syafi’iyyah dan ulama Hanabilah yang menilai umrah berulang kali sebagai amalan yang sunnah, namun pada dasarnya mereka tidak mempunyai hujjah khusus, kecuali hanya qiyas umum. Yakni, untuk memperbanyak ibadah atau berpegangan dengan dalil-dalil yang umum.[23]

Di antara dalil yang umum, hadits Nabi:

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا

"Antara umrah menuju umrah berikutnya menjadi penghapus (dosa) di antara keduanya" [24].

Tentang hadits ini, Syaikh al 'Utsaimin mendudukkan bahwa hadits ini, mutlak harus dikaitkan dengan apa yang diperbuat oleh generasi Salaf ridhwanullah ‘alaihim [25]. Penjelasannya sudah disampaikan pada point-point sebelumnya. Ringkasnya, tidak ada contoh dari kalangan generasi Salaf dalam melaksanakan umrah yang berulang-ulang.

11. Pada penaklukan kota Mekkah, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berada di Mekkah selama sembilan belas hari. Tetapi, tidak ada riwayat bahwa beliau keluar ke daerah halal untuk melangsungkan umrah dari sana. Apakah Nabi tidak tahu bahwa itu masyru’ (disyariatkan)? Tentu saja tidak mungkin![26]

LEBIH BAIK MEMPERBANYAK THAWAF
Berdasarkan alasan-alasan di atas, menjadi jelas bahwa thawaf lebih utama. Adapun berumrah dari Mekkah dan meninggalkan thawaf tidak mustahab. Dan yang disunnahkan adalah thawaf, bukan umrah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menambahkan : “Thawaf mengelilingi Ka’bah lebih utama daripada umrah bagi orang yang berada di Mekkah, merupakan perkara yang tidak diragukan lagi oleh orang-orang yang memahami Sunnah Rasulullah dan Sunnah Khalifah pengganti beliau dan para sahabat, serta generasi Salaf dan tokoh-tokohnya”.

Alasannya, kata beliau rahimahullah, karena thawaf di Baitullah merupakan ibadah dan qurbah (cara untuk mendekatkan diri kepada Allah) yang paling afdhal yang telah Allah tetapkan di dalam KitabNya, berdasarkan keterangan NabiNya. Thawaf termasuk ibadah paling utama bagi penduduk Mekkah. Maksudnya, yaitu orang-orang yang berada di Mekkah, baik penduduk asli maupun pendatang. Thawaf juga termasuk ibadah istimewa yang tidak bisa dilakukan oleh orang-orang yang berada di kota lainnnya.

Orang-orang yang berada di Mekkah sejak masa Rasulullah dan masa para khulafa senantiasa menjalankan thawaf setiap saat. Dan lagi, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kepada pihak yang bertanggung jawab atas Baitullah, agar tidak menghalangi siapapun yang ingin mengerjakan thawaf pada setiap waktu. Beliau bersabda:

يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ لَا تَمْنَعُوا أَحَدًا طَافَ بِهَذَا الْبَيْتِ وَصَلَّى فِيْ أَيِّ سَاعَةٍ شَاءَ مِنْ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ

"Wahai Bani Abdi Manaf, janganlah kalian menghalangi seorang pun untuk melakukan thawaf di Ka'bah dan mengerjakan shalat pada saat kapan pun, baik malam maupun siang" [27]

Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dengan berfirman :

أَن طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

"Dan bersihkanlah rumahKu untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku', dan yang sujud" [al Baqarah/2:125]

Dalam ayat yang lain:

أَن طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

"Dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang ruku' dan sujud" [al Hajj/22:26]

Pada dua ayat di atas, Allah menyebutkan tiga ibadah di Baitullah, yaitu : thawaf, i’tikaf dan ruku’ bersama sujud, dengan mengedepankan yang paling istimewa terlebih dahulu, yaitu thawaf. Karena sesungguhnya, thawaf tidak disyariatkan kecuali di Baitil ‘Atiq (rumah tua, Ka’bah) berdasarkan kesepakatan para ulama. Begitu juga para ulama bersepakat, thawaf tidak boleh dilakukan di tempat selain Ka'bah. Adapun i’tikaf, bisa dilaksanakan di masjid-masjid lain. Begitu pula ruku' dan sujud, dapat dikerjakan di mana saja. Nabi bersabda:

وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَ طَهُورًا

"Dijadikan tanah sebagai masjid dan tempat pensuci bagi diriku" [HR. al-Bukhari - Muslim]

Maksudnya, Allah Subhanhu wa Ta'ala mengutamakan perkara yang paling khusus dengan tempat tersebut. Sehingga mendahulukan penyebutan thawaf. Karena ibadah thawaf hanya berlaku khusus di Masjidil Haram. Baru kemudian disebutkan i’tikaf. Sebab bisa dikerjakan di Masjidil Haram dan masjid-masjid lainnya yang dipakai kaum Muslimin untuk mengerjakan shalat lima waktu. Selanjutnya, disebutkan ibadah shalat. Karena tempat pelaksanaannya lebih umum.

Selain itu, thawaf merupakan rangkaian manasik yang lebih sering terulang. Disyariatkan thawaf Qudum bagi orang yang baru sampai di kota Mekkah. Dan disyariatkan thawaf Wada’ bagi orang yang akan meninggalkan kota Mekkah usai pelaksanaan manasik haji. Disamping keberadaan thawaf ifadhah yang menjadi salah satu rukun haji.[28]

Secara khusus, tentang keutamaan thawaf di Baitullah, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ طَافَ بِهَذَا الْبَيْتِ سَبْعًا كَعِدْلِ رَقَبَةٍ

"Barangsiapa mengelilingi rumah ini (Ka’bah) tujuh kali, seperti membebaskan satu budak belian" [29].

Kesimpulannya : Memperbanyak thawaf merupakan ibadah sunnah, lagi diperintahkan. Terutama bagi orang yang datang ke Mekkah. Jumhur ulama berpendapat, thawaf di Ka’bah lebih utama dibandingkan shalat di Masjidil Haram, meskipun shalat di sana sangat besar keutamaannya.[30]

Pendapat yang mengatakan tidak disyari’atkan melakukan thawaf berulangkali, inilah yang ditunjukkan oleh Sunnah Nabawiyah yang bersifat ‘amaliyah, dan didukung oleh fi’il (perbuatan) para sahabat Radhiyallahu 'anhum. Dan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memerintahkan kita agar mengikuti Sunnah beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam dan sunnah para khalifahnya sepeninggal beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam. Yaitu beliau bersabda : Hendaklah kalian berpegang teguh dengan Sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk dan terbimbing sepeninggalku. Hendaklah kalian menggigitnya dengan gigi gerahammu. [Sunan Abu Dawud, II/398, no. 4607; Ibnu Majah, I/16, no. 42 dan 43; Tirmidzi, V/43, no. 2673; Ahmad, IV/26.] [31]

Oleh karena itu, ketika berada di Mekkah sebelum atau sesudah pelaksanaan haji, yang paling baik bagi kita ialah memperbanyak thawaf, daripada melakukan perbuatan yang tidak ada contohnya. Wallahu a'lam bish-shawab.

Selasa, 19 November 2013

Teman dari malaysia

Saya memanggilnya kak muna,nama lengkapnya tidak sempat nanya karena asyik dengan sharing yang banyak menambah wawasan untuk saya.Obrolan terjadi ketika menunggu sholat isya setelah sholat magrib di masjidil haram di bulan haji th 2013 ini,i poin diskusi kami sbb:

 1. Kak muna mengkritik tentang cara thowaf orang indonesia yang mengeraskan suara mengikuti muthowif dan berbaris seperti tentara sehingga mengganggu kekhusyukan jamaah lain dan arus lalu lintas thowaf.(mungkin ada benernya juga karena saya ketika dalam barisan tidak mau memberi jalan ketika ada yang mau lewat karena takut barisan bubar hehe).Padahal kata kak muna dulu Rosululloh ketika thowaf dengan para sahabat berdo’a sendiri-sendiri,dan tidak membuat barisan seperti kami.Saya juga pernah membaca sebuah hadist tentang pentingnya tidak menyakiti orang lain ketika thowaf Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW berkata kepada Umar, “Hai Umar engkau adalah seorang yang kuat, jangan engkau berdesak-desakan untuk mendekati Hajar Aswad lalu kamu menyakiti yang lemah. Jika kamu memperoleh kesempatan maka ciumlah Hajar aswad itu. Jika tidak, cukup dengan takbir dan terus berjalan." (HR. Al-Syafi’i).

2. Ketika thowaf untuk mempermudah hitungan thowah putaran pertama bacalah istighfar,putaran kedua subhanalllah,putaran ketiga alhamdulillah putaran keempat lailahailallah,kelima takbir,keenam shalawat,ketujuh do’a apa saja,karena tidak ada bacaan khusus yang disunahkan rosul ketika thowaf,tetapi saat antara rukun yamani dan hajar aswad di sunahkan membaca robbana attinaa…dst,ketika saya melakukan saran kak muna memang terasa lebih khusyuk dan tenang,karena do’a yang di buku panduan haji panjang2x,kalau mengikuti muthowif suaranya kadang tidak jelas,jadi heboh sendiri hehe.

 3. Lebih baik banyak melakukan thowaf daripada umroh sunah karena dalam alquran Allah berfirman“Maka, makanlah sebagian daripadanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir. Kemudian mereka hendaklah menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan tawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah). Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya.” (QS. Al-Hajj: 26- 30). Kemudian Allah berfirman pula, “Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf dan yang i’tikaf, yang rukuk, dan yang sujud.” (QS. Al-Baqarah: 125).Menurut kak muna Rosul tidak melakukan umroh sunah ketika berhaji,hanya umroh wajib saja.Dan ketika saya crosscek dengan ustad pembimbing haji saya memeng betul apa yang disampaikan teman saya ini,rosul memang pernah melakukan umroh sampai 4 kali yaitu3 kali di luar bulan haji,1 kali bersamaan dengan haji.yang sering disebut umroh wajib,dan semua umrohnya dilakukan masing-masing dalam 1x perjalanan.

Maksudya daripada capek melakukan umroh sunah berkali kali(karena harus ambil mikot juga jauh,ditambah sa’i yang cukup melelahkan) lebih baik perbanyak thowaf yang jelas pahalanya.Anas bin Malik dan Said bin Musayib mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Dua macam tawaf, yang apabila seorang hamba Muslim dapat memenuhinya, niscaya seluruh dosanya akan diampuni seperti ketika ia dilahirkan oleh ibunya. Dua macam tawaf itu adalah tawaf setelah shalat fajar (Subuh) yang selesai bersamaan dengan terbitnya matahari, dan tawaf setelah shalat Ashar yang selesai bersamaan dengan terbenamnya matahari.” (Al-Azraqy: 11/22). Sebenarnya masih ada beberapa sharing yang saya dapat,tapi udah ngantuk nih,lain kali disambung ceritanya ya Insya Allah…

Kamis, 25 Juli 2013

Belajar Tawakal

Senin kemarin suami tugas ke makasar,setelah menyiapkan keperluan suami dan doi berangkat ke bandara saya pun beraktifitas seperti biasa sebagai ratu rumah tangga hehe.Tiba-tiba ada telefon berdering…lho ternyata hp suami saya yang bunyi,waduh hp-nya ketinggalan dua-duanya,padahal setahu saya urusan kerjaannya banyak di handle dengan hp,bakalan repot kalau gak ada hp.Saya melihat jam,hemmm 1 jam lagi peswat berangkat,ngejar gak ya kalau saya antar ke bandara?

Saya memutuskan berangkat walaupun tidak hafal jalan ke bandara,tapi saya pikir minimal ada harapan pesawat delay jadi masih ada spare waktu,dari pada no action,dan ternyata jalannya macet bo,tapi saya pasrah saja sambil berdo’a dan mencoba tidak tergesa-gesa alias slow but sure.

Diiringi terik matahari akhirnya sampai juga di bandara,dan Alhamdulillah belum berangkat pesawatnya,makasih ya yang…kata suami saya sambil lari menuju pesawat. Saya menuju mushola bandara untuk sholat duhur dan ngadem sebentar,sayup-sayup terdengar informasi pesawat lion ke makasar segera berangkat,terima kasih ya Allah…

Kamis, 18 Juli 2013

Ketika putriku masuk SMP



Hiruk pikuk UNAS sudah selesai,setelah selama satu tahun anak saya kenyang dengan menu-menu tryout hehe,akhirnya bisa santai  sekarang.Walaupun ananda tidak ikut bimbel tapi di sekolah program utamanya adalah tryout.Alhamdulillah ananda lulus dengan nilai memuaskan 28.3,dan masuk SMP favorite di surabaya.Walaupun tahun ini tidak ada UNAS lagi tapi kehebohan orangtua mungkin tidak akan beda jauh dengan yang saya alami.

Sekarang cerita tentang daftar SMP yaa…
Saya awalnya menginginkan putri saya masuk ke sekolah islam lagi,karena saya melihat banyak pengaruh positifnya ketika dia dulu sekolah di SD islam.Bahkan dulu ada keinginan memasukan ke pesantren modern,tapi setelah mempertimbangkan makna waktu bersama anak-anak saya berubah pikiran.Pola pikir saya sederhana saja,jika dari SMP-SMA sudah masuk pesantren(pastinya di asrama ),Kuliah di luar kota ato luar negeri,bekerja kemudian menikah,lalu waktu bersama orangtuanya kapan?dulu waktu saya kuliah di luar kota kebersamaan dengan orangtua rasanya sebentar,yang ada di memori saya lebih banyak kenangan dengan teman-teman kuliah dan kos, Saya ingin mengikuti  dan merasakan momen-momen saat putri saya mulai remaja,dewasa dan menjadi ibu ,semoga Allah memanjangkan umur kami,aamiin..

Pilihan akhirnya masuk ke sekolah negeri,awalnya saya keberatan,tapi setelah berunding dengan anak dan suami saya pun sepakat.Tapi sebelumnya saya crosscek dulu sistem pembelajaran dan habit di SMP yang dipilih anak saya itu,o iya belum menyebutkan nama sekolahnya ya,lokasinya dekat dengan stasiun gubeng,apa hayo?yup SMP 6 Surabaya.Kalau melihat rangking nilai tertinggi pendaftar kemarin, SMP 6 memang dibawah SMP 1,jadi mungkin bisa dibilang smp nomer 2 se-kutho suroboyo.

Di SMP 1 sebenarnya kalau melihat nilai total tes dan unas(ada tes untuk sekolah kawasan/favorite)ayu juga keterima tapi kita mantap mendaftar ke SMP 6,kenapa?Kalau ada kenapa pasti ada karena kan hehe,alasannya karena SMP 6 mempunyai habit yang jarang dimiliki oleh sekolah negeri pada umumnya,bahkan visi dan misi yang disampaikan kepala sekolah waktu pertemuan dengan wali murid membuat teman saya merinding katanya(padahal gak dingin loh hihi),kata pak kepsek  beliau menginginkan pemimpin-pemimpin di masa depan kelak adalah yang bukan hanya pintar tapi juga dekat dengan tuhannya.Maka sebelum jam pelajaran mulai beliau menginginkan anak-anak dekat dengan tuhannya,jam setengan tujuh pagi anak-anak sholat duha berjamaah,dilanjutkan tadarus bersama,untuk yang non muslim berdoa dengan guru agama masing-masing di lantai atas.Ketika adzan sholat dhuhur dan ashar,pelajaran break untuk kemudian sholat berjamaah di  lapangan yang digelarkan tikar untuk menampung sekitar 800 siswa(luar biasa).Kalau untuk sekolah islam mungkin biasa tapi untuk sekolah negeri TOP deh.

Karena sekolahnya jauh dari rumah,ayu naik antar jemput,maklum rumah saya di pinggiran surabaya,sementara sekolahnya di pusat,jadi sekitar jam 5.10 pagi jemputan sudah datang,awal-awal sekolah kalau mandi pagi bersin-bersin(subuh mandi) hehe,sekarang sudah tidak lagi. 3 hari pertama kegiatan MOS sekarang jadwalnya pondok romadhon.Ada yang menarik di kegiatan MOS,ketika Ayu mengerjakan tugas membuat namecard ukuran 12.2cm dengan bentuk segilima samasisi kesulitan,saya coba membantu ternyata  ikut bingung juga ,gimana caranya agar samasisi ya?,kalau segiempat ato segitiga mungkin gampang.Akhirnya bisa juga setelah nyoba beberapa kali hihihi(kreatif juga osisnya ).


Alhamdulillah Ayu sepertinya senang sekolah di sana,ada saja yang dia ceritakan pada saya tiap hari,seperti kakak osis yang cakep,jutek,lucu,ndeso,teman-teman kelas,teman satu jemputan,pak sopir jemputan,sepertinya tidak ada habis ceritanya.Saya jadi seperti flashback ketika masuk SMP dulu,rasanya memang beda,dari anak-anak menjadi ABG,dari yang cuek jadi salah tingkah ketika ada cowok yang godain,jadi pengen ngaca terus ketika ada kaca hehe.Dulu Ayah saya yang telaten mendengarkan celoteh saya tentang teman-teman SMP.Sekarang saya ingin seantusias Ayah saya ketika mendengarkan Ayu bercerita(jadi inget bokap nih). Semoga Ayu bisa mengikuti kegiatan belajar di sekolah dengan baik,pintar,senang  dan menjadi putriku yang sholihah,apapun peran yang ayu mainkan sebagai hamba Allah,ibu harap hidup ayu di penuhi keberkahan aamiin.

Jumat, 21 Juni 2013

IBU HAMIL PUASA?



Dalam blog ini belum ngenalin faiz ya…
Doi adalah putra ketiga saya,anaknya putih sipit mirip orang cina dan ndut(katanya sih mirip si dul anaknya ahmad dani).
Dulu waktu hamil faiz sering saya selipkan do’a selain doa anak sholeh yaitu agar kelak ketika lahir tumbuh menjadi anak yang sehat dan ndut,karena dua anak saya sebelumnya tidak gemuk,bahkan cenderung kurus ketika kecil.
Alhamdulillah Allah mengabulkan do’a saya,faiz dari kecil gampang tidur,tidak rewel,bahkan waktu saya beri ASI  eksklusif selama 6 bulan doi montok bener.

Ketika hamil dan menyusui saya berusaha menjaga jenis makanan yang di konsumsi mengikuti saran dari dokter dan beberapa buku yang saya baca,bahkan ketika ramadhan tiba memilih untuk tidak puasa karena takut baby-nya tidak cukup gizi,tetapi hamil anak ketiga saya mencoba berpuasa satu bulan penuh di bulan ramadhan,dan bisa katam alqur’an dalam sebulan.Entah kebetulan atau tidak faiz dari kecil tidak rewel,pembawaannya ceria,lebih jarang sakit dibandingkan kakak-kakaknya,fisiknya kuat karena pukulan,tendangannya powerfull,ketika terjatuh tidak gampang nangis.Kalau agak besaran rencananya mau saya kursuskan beladiri,memenuhi keinginan saya menjadi pendekar yang tidak tercapai hehe.Kata ibu saya waktu itu gini  perempuan jangan ikut olahraga beladiri karena terlalu keras,padahal saya pernah mewakili kecamatan waktu SD lomba pencak silat ke tingkat kabupaten,kata guru saya tulang saya besar jadi cocok untuk silat.(angkat besi juga kali ya hahaha).

Itu tadi sekilas cerita tentang faiz,semoga bisa memberi inspirasi bagi yang sedang hamil ya,karena sebentar lagi kan mau ramadhan,coba puasa deh kalau memang hamilnya tidak ada keluhan alias normal-normal saja,tapi ketika sahur  dan buka makannya yang bergizi,minum suplemen dari dokter n madu jangan lupa,terus minum air putih yang banyak ya,Insya Allah kuat n sehat ibu dan anak.Selamat menempuh ibadah puasa ramadhan ya..

Senin, 01 April 2013

Gak punya BB ya...


Hari gini gak punya BB?,kenapa sih mbak?Tak beliin ya(hehe  kalau ini boong),yang bikin agak keqi waktu ada yang mengira kalau suami saya yang melarang hahaha kacian deh.Saya memang bukan tipikal orang yang gila gadget,dari dulu kalau hp  belum rusak ya belum ganti,bahkan dulu pernah dapat undian dari salah satu bank hp nokia keluaran terbaru saat itu,tetapi saya memakainya setelah 2 tahun kemudian hihi,lha wong yang lama masih bagus je,memang sih jadi keliatan jadul,tapi gak papalah,kan menyesuaikan dengan muka ane yang jadul(hiks).


Sekitar Dua minggu yang lalu diajak suami liat pameran mobil di salah satu mall,masuknya bayar 10 rb per orang,dan  dapat nomor undian gitu deh,tempatnya luas bahkan ada truk besar yang di pajang,lumayan lama juga muter-muter liat mobil,eh gak Cuma liat ding,pertama memang liat-liat, terus pegang luarnya (milih yang mobil mahal),sambil nanya nanya ke salesnya (biar keliatan banyak duit gitu loh)dan akhirnya duduk nyobain setirnya(seharusnya sambil sholawat tiga kali biar jadi milik tapi lupa hehe).Puas jalan jalan liat pameran anak-anak minta mampir ke gramedia ,Alhamdulillah anak-anak hobi membaca,bahkan si kecilpun keliatan sumringah ketika masuk gramed,walopun yang pertama di tuju tempat cd Pablo.

Kembali ke BB ya,selang seminggu dari jalan-jalan ke pameran ada yang nelfon…
Nona X             : hallo dengan ibu eka?
Nona Cantik      : betul,dari mana?
Nona x              : saya dari eo-nya pameran mobil di grand city,ibu mendapat hadiah undian blackberry,silahkan diambil ke sini , saya tunggu sampai jam 5 ya bu
Nona cantik       : o gitu ya(datar suaranya),ini beneran ya mbak
Nona x               : beneran ibu…

Walaupun raguragu karena takut ditipu saya datangi juga tempat yang diinformasikan,dan Alhamdulillah memang beneran dapet hadiah BB,yipie…eits…sebentar…terus yang mau memakai siapa ya?apakah sudah saatnya saya berteman dengan BB?,gimana kalau di jual aja?(dasar mata duitan ni).Setelah menimbang,mengocok,dan mengoven(emangnya mau buat kue?)saya memutuskan menyimpan si BB untuk waktu yang tidak terbatas,maaf ya be..be..  

Rabu, 14 November 2012

edisi kangen bokap

Tadi pagi faiz minta di setelin cd,tapi kaset yang dicari nggak ketemu, malah nemu CD Ada band,dan termehek-mehek ketika muter lagu tentang ayah

Yang Terbaik Untukmu (ada band)

Teringat masa kecilku kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu buatku melambung
Disisimu terngiang hangat napas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu

Kau inginku menjadi yang terbaik bagimu
Patuhi perintahmu jauhkan godaan
Yang mungkin ku lakukan dalam waktu ku beranjak dewasa
Jangan sampai membuatku terbelenggu jatuh dan terinjak

Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji tak kan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuh maumu

Andaikan detik itu kan bergulir kembali
Ku rindukan suasana basuh jiwaku
Membahagiakan aku yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu yang pernah terlewati